• 01Oct

Memahami Shutter Speed – Diafragma – ISO

Sebenarnya belajar memotret sangatlah mudah, kita hanya tinggal membuat sebuah garis indikator kecil di viewfinder (metering) tepat berada di tengah dengan cara mengatur settingan shutter speed, diafragma, dan ISO di kamera kita. Jika indikator itu sudah berada di tengah, tekan tombol shutter, jadilah sebuah foto dengan exposure yang tepat. Tentunya jika dalam kondisi cahaya yang cukup ideal dan merata.

“Kapan kita harus menggunakan shutter speed 1/1000?” (shutter speed cepat)
“Kapan kita harus menggunakan diafragma 1.8?” (diafragma besar)
“Kapan harus menggunakan ISO 1600?” (ISO tinggi)

Setiap setting dapat menghasilkan efek yang berbeda-beda.

Diafragma
Seberapa besar lensa terbuka untuk menerima cahaya.

Cahaya : Semakin besar bukaan diafragma semakin banyak cahaya yang masuk.
Efek : Ruang ketajaman semakin tipis.
Contohnya : F/2, F/1.8, F/1.4, dst.

Cahaya : Semakin kecil bukaan diafragma semakin sedikit cahaya yang masuk.
Efek : Ruang ketajaman semakin luas.
Contohnya : F/11, F/16, F/22, dst.

Shutterspeed
Seberapa lama kamera terbuka untuk menerima cahaya.

Cahaya : Semakin lambat shutter speed semakin banyak cahaya yang masuk.
Efek : Motion blur.
Contohnya : 10 detik, 30 detik, dst.

Cahaya : Semakin cepat shutter speed semakin sedikit cahaya yang masuk.
Efek : Motion freeze.
Contohnya : 1/640 detik, 1/1000 detik, dst.

ISO
Seberapa sensitif kamera terhadap cahaya.

Cahaya : Semakin rendah ISO semakin kurang sensitif sensor terhadap cahaya.
Efek : Semakin sedikit noise yang keluar dalam foto.
Contohnya : ISO 200, ISO 100, dst.

Cahaya : Semakin tinggi ISO semakin sensitif sensor terhadap cahaya.
Efek : Semakin sensitif sensor menangkap cahaya namun semakin banyak noise yang keluar dalam foto. ISO tinggi digunakan ketika kita dalam kondisi kamera kekurangan cahaya, misalnya malam hari.
Contohnya : ISO 1600, ISO 3200, dst.

“Bagaimana menentukan kombinasi ketiganya? Caranya adalah dengan menentukan konsep foto apa yang akan anda buat. Apakah Slow Speed, Ruang Ketajaman Sempit, atau yang lainnya.”¬†